KETEPATAN KODE DIAGNOSIS CARDIOVASKULAR BERDASARKAN ICD-10 CM DI RSUD HASRI AINUN HABIBIE PROVINSI GORONTALO
Abstract
Ketepatan pengkodean diagnosis merupakan aspek penting dalam sistem informasi kesehatan, khususnya dalam penerapan klaim pembiayaan berbasis INA-CBG’s. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui ketepatan kode diagnosis penyakit kardiovaskular berdasarkan pedoman ICD-10-CM serta menggali faktor-faktor yang memengaruhinya di RSUD Hasri Ainun Habibie Provinsi Gorontalo. Metode yang digunakan adalah pendekatan kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data melalui wawancara mendalam, observasi, dokumentasi, dan telaah dokumen rekam medis. Informan penelitian meliputi petugas koding, dokter penanggung jawab pasien (DPJP), dan kepala instalasi rekam medis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ketidaktepatan kode diagnosis disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain: penulisan diagnosis yang tidak spesifik atau kurang jelas oleh DPJP, keterbatasan komunikasi antara koder dan dokter, serta kurangnya pelatihan teknis berkala bagi petugas koding. Disimpulkan bahwa ketepatan kode diagnosis kardiovaskular sangat bergantung pada kolaborasi lintas profesi serta kualitas dokumentasi medis. Diperlukan pelatihan rutin, peningkatan pemahaman terhadap ICD-10-CM, dan perbaikan komunikasi antarprofesional sebagai upaya peningkatan mutu rekam medis dan akurasi pengkodean di rumah sakit.
References
[2] World Health Organization. (2021). Cardiovascular diseases (CVDs): key facts. Geneva: WHO.
[3] World Health Organization. (2019). ICD 10: International Statistical Classification of Diseases and Related Health Problems 10th Revision Clinical Modification (ICD 10 CM). Geneva: WHO.
[4] Nurjannah, N. S., Mudiono, D. R. P., & Farlinda, S. (2022). Determinan ketepatan kode diagnosis utama di RS Pusat Pertamina Jakarta Selatan. RAMMIK: Jurnal Rekam Medik dan Manajemen Informasi Kesehatan, 1(1), 35–40. https://doi.org/10.47134/rmik.v1i1.14
[5] Ernawati, D., & Mahawati, E. (2015). Peran tenaga medis dan koder dalam menjamin keakuratan klaim INA CBG’s (Studi kasus sectio caesaria pasien Jamkesmas di RS Kota Semarang). Forum Informatika Kesehatan Indonesia, 2015, 81–87.
[6] Kurnianingsih, W. (2020). Hubungan pengetahuan koder dengan keakuratan kode diagnosis pasien rawat jalan BPJS berdasarkan ICD 10. Jurnal Manajemen Informasi dan Administrasi Kesehatan, 3(1), 18–24.
[7] Sulrieni, I. N., Hartati, L., & Purnamasari, T. (2023). Pemahaman terminologi medis dan pengaruhnya terhadap keakuratan kode diagnosis. Al Iqra Medical Journal, 6(1), 65–71.
[8] Utami, Y. T. (2015). Standar pengisian rekam medis dan implikasinya terhadap mutu data rumah sakit. Jurnal Ilmiah Rekam Medis dan Informatika Kesehatan, 5(1), 13–25.
[9] Rika, E., Putri, M., & Handayani, D. (2024). Pengenalan profesi rekam medis. Jurnal Medika, 3(2), 253–258.
[10] Az Zahra, R. A., & Sari, I. (2023). Analisis rekam medis elektronik dalam menunjang efektivitas kerja. INFOKES (Jurnal Informasi Kesehatan), 7(1), 21–31.
[11] Dyah Ernawati. (2020). Evaluasi ketepatan pengkodean dan akurasi klaim INA CBG’s. Forum Informatika Kesehatan Indonesia, 2015, 81–87.
[12] Dian Ekawaty & A. A. Nuryadin (2022). Peran coder terkait akurasi pengkodean ICD 10 pada sistem INA CBG’s. Jurnal Ilmiah Keperawatan, 10(3), 515–521.
[13] Ardaning, N., Suryani, W., & Lestari, D. (2024). Mekanisme penyakit kardiovaskular terkait penuaan. Bioma, 26(2), 80–93.
[14] Alfiansyah, M., Nugroho, B., & Putri, D. P. (2020). Manajemen mutu rumah sakit dalam era JKN. Jurnal Administrasi Rumah Sakit, 6(2), 101–110.
Copyright (c) 2026 Nurliyanawati Sango, Moh Ichsan Arifin Antu, Riska Ahmad

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.





